Hari Laut Sedunia: Polusi Plastik Terus Mengancam Ekosistem Laut

Kelautan 07 Jun 2026 13 kali dibaca
Gambar Artikel Ilustrasi polusi plastik di laut

LingkariNews – Di balik peringatan Hari Laut Sedunia yang jatuh setiap 8 Juni, ancaman polusi plastik di lautan masih menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar yang dihadapi dunia. Plastik yang masuk ke laut tidak hanya mencemari pantai dan perairan, tetapi juga merusak habitat penting seperti terumbu karang serta mengancam kehidupan ribuan spesies laut. 

Berdasarkan laporan World Ocean Assessment, lebih dari 4.000 spesies laut diketahui terdampak oleh polusi plastik. Laporan yang disusun oleh lebih dari 650 pakar dari berbagai negara itu menunjukkan bahwa dampak plastik tidak hanya terjadi pada satu kelompok organisme, melainkan mempengaruhi seluruh sistem kehidupan laut.

“Ini mempengaruhi pola makan, metabolisme, fungsi kekebalan tubuh, pertumbuhan, hingga reproduksi mereka. Plastik melemahkan dan membunuh satwa laut, sekaligus mengubah populasi mereka,” kata Dr. Ian Butler, salah satu editor laporan tersebut.

Potongan plastik berukuran besar dapat menjerat atau mencekik satwa laut. Seiring waktu, material tersebut terpecah menjadi mikroplastik yang lebih kecil dan masuk ke rantai makanan. Meski secara fisik hancur, senyawa kimia penyusunnya tetap bertahan dan terus memberikan dampak terhadap lingkungan.

Polusi Plastik Laut Terus Meningkat

Meski kesadaran publik terhadap bahaya plastik sampah semakin tinggi, jumlah plastik yang masuk ke laut masih terus bertambah setiap tahun. Peningkatan ini dipicu oleh pengelolaan sampah yang buruk, kebiasaan membuang sampah sembarangan, abrasi mikroplastik dari berbagai produk, serta aktivitas maritim.

Emisi sampah plastik ke lingkungan di perkirakan mencapai 52,1 juta ton metrik per tahun. Menurut para peneliti, sampah yang terlihat mengambang di permukaan laut atau terdampar di pantai sebenarnya hanya sebagian kecil dari masalah yang ada. 

Sebagian besar plastik laut berada dalam bentuk yang sulit dideteksi karena telah tenggelam, terpecah menjadi partikel kecil, atau tersebar di berbagai lapisan perairan.

Mikroplastik, Ancaman Kecil yang Sulit Dilihat

Salah satu tantangan terbesar dalam penangan pencemaran laut adalah keberadaan mikroplastik dan nanoplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang berasal dari pecahan plastik yang lebih besar maupun dari berbagai produk sehari-hari.

Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 24,4 terilun partikel mikroplastik di lapisan atas lautan dunia. Partikel-partikel tersebut telah ditemukan mulai dari permukaan laut hingga perairan terdalam. 

Paparan mikroplastik diketahui dapat memicu peradangan, menganggu sistem imun, memperlambat pertumbuhan, serta menyebabkan ketidakseimbangan energi pada organisme laut. Namum, dampak jangka panjang nanoplastik masih belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan. 

Masalahnya, semakin kecil ukuran plastik, semakin sulit pula mendeteksi, memantau, dan menghilangkannya dari lingkungan. Pada saat yang sama, prrtikel tersebut lebih mudah menembus penghalang biologis alami, termasuk membran sel.

Menurut Butler, konsentrasi mikroplastik juga mengalami peningkatan sepanjang rantai makanan. Partikel yang dimakan organisme kecil akan berpindah ke hewan yang lebih besar dan terus terakumulasi pada tingkat trofik yang lebih tinggi.

Plastik Sekali Pakai Jadi Penyumbang Utama

Plastik sekali pakai masih menjadi sumber utama sampah di lingkungan. Secara global, jenis plastik ini diperkirakan menyumbang sekitar 40 persen dari total sampah yang ditemukan, sementara aktivitas perikanan berkontibusi sekitar 15 persen. 

Para peneliti menilai solusi terhadap masalah ini tidak cukup hanya melalui peningkatan kegiatan daur ulang. Upaya yang lebih mendasar adalah mengurangi produksi sampah sejak awal, memperluas penggunaan kembali produk, memperbaiki desain kemasan, dan mengembangkan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

“Mengubah formula plastik memang membantu, tetapi mengurangi ketergantungan kita pada plastik sekali pakai jauh lebih penting bagi laut,” kata Butler.

Dampaknya Tidak Hanya pada Lingkungan

Polusi plastik tidak hanya merusak ekosistem laut, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Sektor-sektor yang bergantung pada laut, seperti perikanan, pariwisata, dan pelayaran kehilangan miliaran dolar setiap tahun akibat menurunnya pendapatan dan meningkatnya biaya pembersihan sampah.

Nelayan skala kecil termasuk kelompok yang paling rentan. Selain menganggu habitat ikan, pencemaran plastik juga berpotensi mempengaruhi kestabilan pangan. Sejumlah penelitian bahkan menemukan indikasi konsumsi plastik pada 386 spesies ikan laut.

Perjanjian Global Dinilai Penting

Para ahli menilai bahwa penanganan polusi plastik membutuhkan langkah yang lebih besar daripada sekadar aksi bersih pantai. Pengurangan produksi plastik, inovasi material yang lebih berkelanjutan, dan pengembangan alternatif plastik sekali pakai dinilai menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.

Salah satu upaya yang tengah didorong adalah pembentukan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum untuk mengatasi polusi plastik. Proses perundingan tersebut difasilitasi oleh United Nations Environment Programme (UNEP) melalui Intergovernmental Negotiating Committee on Plastic Pollution.

Namun hingga kini, 193 negara anggota PBB masih belum mencapai kesepakatan final mengenai bentuk pejanjian tersebut. 

“Beberapa negara merasa pembatasan tertentu akan merugikan ekonomi mereka secara tidak proprosional karena sangat bergantung pada industri plastik,” ungkap Butler.

Di tengah belum tercapainya kesepakatan global, para ilmuwan mengingatkan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif. Bagi lautan dunia, mengurangi aliran plastik sejak dari sumbernya akan jauh lebih berdampak dibanding membersihkan sampah setelah mencemari laut.

(NY)

Sumber 

https://news.un.org/en/story/2026/06/1167637 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-