LingkariNews – Harga gula mentah dunia diperkirakan akan mengalami kenaikan menjelang akhir tahun 2026. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Reuters terhadap sejumlah pedagang dan analisis komoditas, kontrak berjangka gula mentah di bursa ICE diproyeksikan berada di kisaran 15 sen AS per pon pada akhir 2026.
Angka tersebut menunjukkan pemulihan hampir 10 persen dibandingkan harga penutupan 5 Maret yang berada di level 13,72 sen AS per pon. Meski demikian, proyeksi tersebut masih sedikit lebih rendah dibandingkan harga penutupan pada akhir 2025 yang tercatat 15,01 sen AS per pon.
Kenaikan harga ini diperkirakan dipicu oleh perubahan kondisi pasar global yang secara bertahap bergerak dari surplus menuju defisit pasokan.
Pasar Gula Global Diproyeksikan Beralih ke Defisit
Para analisis memperkirakan bahwa pasar gula global akan mengalami perubahan keseimbangan dalam dua musim mendatang. Pada musim 2025/26, pasar gula masih diperkirakan mencatat surplus sekitar 1,39 juta ton. Namun pada musim berikutnya, yaitu 2026/27, pasar diproyeksikan berbalik menjadi defisit sekitar 1,5 juta ton.
Perubahan keseimbangan ini menjadi salah satu faktor utama yang diperkirakan mendorong kenaikan harga gula di pasar internasional.
Selain gula mentah, harga gula putih juga diprediksi mengalami kenaikan. Harga kontrak gula putih diperkirakan mencapai sekitar US$462,50 per ton pada akhir 2026, atau meningkat sekitar 13,8 persen dibandingkan harga pada awal Maret 2026.
Kebijakan Etanol Brasil Mempengaruhi Pasokan Gula
Brasil, sebagai produsen gula terbesar di dunia, juga berperan penting dalam menentukan dinamika pasar global. Wilayah Brasil bagian tengah-selatan, yang merupakan pusat produksi gula utama negara tersebut, diperkirakan akan memproduksi sekitar 40,38 juta ton gula pada musim 2026/27. Angka ini relatif stabil dibandingkan musim sebelumnya.
Namun, produksi tebu di wilayah tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 625 juta ton, naik dari sekitar 610 juta ton pada musim sebelumnya. Meski produksi tebu meningkat, proporsi tebu yang digunakan untuk produksi gula justru diperkirakan menurun. Jika pada musim sebelumnya sekitar 50,7 persen tebu digunakan untuk produksi gula, pada musim 2026/27 porsinya diperkirakan turun menjadi 48,8 persen.
Penurunan ini terjadi karena sebagian tebu akan dialihkan untuk produksi etanol, seiring meningkatnya permintaan biofuel di Brasil. Pergeseran penggunaan tebu tersebut berpotensi mengurangi pasokan gula di pasar internasional dan menjadi salah satu faktor yang mendorong harga naik.
Cuaca di India Berpotensi Menekan Produksi
Sementara itu, India yang merupakan produsen gula terbesar kedua di dunia, juga menghadapi tantangan pada sektor produksi. Produksi gula India pada musim 2026/27 diproyeksikan mencapai 29,9 juta ton, sedikit meningkat dibandingkan produksi tahun sbelumnya yang hanya mencapai 29,5 juta ton.
Untuk musim 2025/26 sendiri, produksi gula India diperkirakan berada pada kisaran 28,3 juta hingga 31,5 juta ton. Namun, sejumlah laporan industri menunjukkan bahwa kondisi cuaca yang tidak biasa di beberapa wilayah penghasil utama, seperti Maharashtra dan Karnataka, berpotensi menekan hasil panen.
Selain faktor cuaca, sebagian produksi gula India juga dialihkan untuk mendukung program etanol dosmetik. Diperkirakan sekitar 3,2 juta ton gula akan digunakan untuk produksi biofuel, sehingga dapat mengurangi pasokan gula yang tersedia untuk ekspor.
Dengan berbagai faktor tersebut, pasar gula global diperkirakan akan menghadapi dinamika yang cukup signifikan dalam dua tahun ke depan. Pergeseran dari kondisi surplus menuju defisit pasokan menjadi faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga gula di pasar internasional.
(NY)
Sumber
https://www.vietnam.vn/id/gia-duong-tho-du-bao-tang-gan-10-vao-cuoi-nam-2026-len-muc-15-us-cent-lb