LingkariNews – Harga gula dunia kembali menguat pada awal pekan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global. Kontrak gula mentah ICE No.11 New York untuk pengiriman Oktober (SBV26) ditutup naik 0,37 sen atau 2,49%, sedangkan kontrak ICE White Sugar No.5 London untuk pengiriman Agustus (SWQ26) menguat US$3,00 atau 0,62%.
Kenaikan harga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari penguatan nilai tukar real Brasil, kondisi musim monsun di India yang lebih lemah dari normal, hingga meningkatnya alokasi tebu untuk produksi etanol di Brasil. Di sisi lain, potensi fenomena El Niño juga terus menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi produksi gula di negara-negara produsen utama.
Penguatan Real Brasil Topang Harga Gula
Salah satu faktor yang mendukung kenaikan harga gula adalah penguatan nilai tukar real Brasil terhadap dolar Amerika Serikat hingga mencapai level tertinggi dalam dua minggu. Kondisi tersebut membuat produsen gula Brasil cenderung mengurangi penjualan ekspor karena nilai tukar yang lebih kuat mengurangi insentif untuk menjual gula ke pasar internasional. Akibatnya, pelaku pasar memperkirakan pasokan ekspor dari Brasil akan lebih terbatas sehingga menopang harga gula.
Monsun India Tingkatkan Kekhawatiran Pasokan
Selain faktor nilai tukar, pasar juga mencermati perkembangan musim monsun di India. Berdasarkan data India Meteorological Department, hingga 6 Juli curah hujan kumulatif masih sekitar 20% di bawah normal. Sementara itu, Ministry of Earth Sciences memperingaktkan bahwa musim monsun tahun ini berpotensi menjadi yang terlemah dalam 11 tahun terakhir.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap produksi tebu di India, mengingat negara tersebut merupakan produsen gula terbesar kedua di dunia. Curah hujan yang lebih rendah berisiko menurunkan produktivitas tebu dan pada akhirnya mengurangi pasokan gula ke pasar global.
Produksi Gula Brasil Tertekan, Etanol Lebih Diutamakan
Dari sisi pasokan, Unica melaporkan bahwa produksi gula di wilayah Center-South Brasil hingga Mei musim 2026/27 mencapai 6,838 juta ton, turun 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan tebu untuk produksi etanol.
Proporsi tebu yang dialokasikan untuk produksi gula turun menjadi 41,42%, sementara porsi untuk etanol meningkat menjadi 58,38%. Tren tersebut sejalan dengan tingginya harga minyak mentah yang membuat produksi etanol menjadi lebih menarik secara ekonomi.
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh perusahaan perdagangan gula Czarnikow, yang memangkas proyeksi neraca gula global musim 2026/27 dari surplus 1,4 juta ton menjadi defisit sekitar 100 ribu ton. Sementara itu, Conab memperkirakan produksi gula Brasil musim 2026/27 turun 0,5% menjadi 43,952 juta ton, sedangkan USDA memperkirakan produksi hanya mencapai 42,5 juta ton, atau turun 3% dibandingkan musim sebelumnya.
El Niño dan Proyeksi Global Masih Membayangi Pasar
Prospek produksi gula global juga dibayangi potensi terbentuknya fenomena El Niño. Japan Meteorological Agency telah mengonfirmasi terbentuknya pola cuaca tersebut di kawasan Pasifik ekuator, yang berpotensi mengurangi curah hujan di Brasil, India, dan Thailand sebagai tiga negara produsen gula terbesar di dunia.
Sejumlah lembaga internasional juga memperkirakan pasokan gula akan semakin ketat. International Sugar Organization (ISO) memproyeksikan produksi gula global musim 2025/26 mencapai rekor 182 juta ton dengan surplus 2,2 juta ton. Namun, untuk musim 2026/27, produksi diperkirakan turun menjadi sekitar 180 juta ton, sehingga pasar diproyeksikan mengalami defisit sekitar 262 ribu ton.
Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan StoneX yang memprediksi defisit sebebesar 550 ribu ton, sementara Covrig Analytics memangkas estimasi surplus global menjadi hanya 100 ribu ton.
Prospek Harga Gula Masih Didukung Risiko Pasokan
Dengan masih tingginya risiko gangguan produksi akibat lemahnya monsun di India, perubahan alokasi tebu untuk etanol di Brasil, serta potensi dampak El Niño, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan pasokan global. Selama faktor-faltor tersebut belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, harga gula dunia berpeluang tetap mendapat dukungan dari kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan.
(NY)
Sumber
https://www.barchart.com/story/news/3147210/sugar-prices-push-higher-as-the-brazilian-real-weakens