talas kimpul
LingkariNews – Belakangan, kimpul ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah seperti “diganti kimpul” bahkan ikut menjadi bagian dari tren yang membuat semakin banyak orang penasaran dengan bahan pangan satu ini. Di balik popularitasnya, kimpul ternyata merupakan salah satu umbi lokal yang berpotensi menjadi sumber pangan alternatif.
Kandungan Gizi Kimpul
Kimpul atau talas belitung (Xanthosoma safittifolium) merupakan tanaman dari famili Araceae. Kimpul memiliki potensi sebagai sumber karbohidrat karena kandungan karbohidratnya relatif tinggi. Di sisi lain, umbi ini memiliki kadar lemak dan kalori yang rendah serta indeks glikemik yang rendah.
Prof. Evy Damayanthi, dosen Departemen Ilmu Gizi IPB University, menyebut talas kimpul layak dikembangkan sebagai salah satu bahan pangan pokok untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia.
Talas kimpul juga mengandung sejumlah zat gizi dan komponen bioaktif, seperti serat pangan, pati resisten, mineral tembaga dan kalium, vitamin B3, serta diosgenin dan flavonoid.
Kandungan serat pangan di dalamnya dapat mendukung kesehatan sistem pencernaan. Dibandingkan dengan talas bogor, gembili, dan singkong, talas kimpul disebut memiliki karakteristik berupa kandungan karbohidrat yang tinggi, rendah lemak, rendah kalori, mudah dicerna, serta bebas gluten.
Pati Resisten Kimpul Baik untuk Kesehatan
Salah satu komponen yang membuat kimpul menarik untuk dikembangkan sebagai pangan adalah pati resisten. Talas kimpul dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan pati resisten tipe III atau RS3.
Pati resisten dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan, termasuk mendukung kesehatan usus dan membantu penyerapan zat gizi mikro. Komponen ini juga berpotensi berperan dalam mencegah sejumlah masalah kesehatan, seperti penyakit kardioviskular, kanker kolon, diabetes, obesitas, dan osteoporosis.
Kandungan pasti resisten juga dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme probiotik di dalam tubuh sehingga berperan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan.
Selain pati resisten, kimpul memiliki berbagai komponen bioaktif, di antaranya alkoloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, diosgenin, dan fenol. Diosgenin juga dikaitkan dengan manfaat untuk menjaga kesehatan kulit dan memiliki potensi sebagai komponen anti penuaan.
Tak Hanya Direbus, Kimpul Bisa Diolah Jadi Banyak Produk
Selama ini, kimpul sering dikenal melalui olahan sederhana seperti direbus atau digoreng. Padahal, pemanfaatannya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan.
Kimpul dapat diolah menjadi tepung yang kemudian digunakan sebagai bahan baku untuk membuat cookies, roti tawar, mi kering, mi basah, bakso, brownies, hingga bahan pengental makanan. Tepung kimpul juga dapat digunakan dalam pengembangan produk mi kering sagon dengan subtitusi kimpul.
Beragam bentuk olahan tersebut menunjukkan bahwa kimpul tidak hanya dapat dikonsumsi sebagai umbi, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri pangan.
Kimpul dan Potensi Pangan Lokal Indonesia
Popularitas kimpul di media sosial membuat salah satu pangan lokal ini kembali mendapat perhatian. Namun, di balik tren tersebut, kimpul memiliki potensi yang lebih panjang untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi pangan.
Dengan kandungan karbohidrat, serat, pati resisten, vitamin, mineral, serta berbagai komponen bioaktif, talas kimpul dapat menjadi salah satu pilihan bahan pangan lokal yang bernilai gizi.
Pengembangan berbagai produk berbahan dasar kimpul juga membuka peluang agar pangan lokal tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi dapat hadir dalam bentuk yang lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat modern.
(NY)
Sumber
https://www.ipb.ac.id/news/index/2023/03/prof-evy-damayanti-ungkap-keunggulan-talas-kimpul/c8878450644d5ae1cdbd669b9a38f03a/