Kenapa Rasa Gula Manis? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Gula 20 Agus 2026 13 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Ketika berbicara tentang rasa manis, pikiran kita hampir selalu tertuju pada gula. Gula banyak digunakan untuk membuat berbagai makanan dan minuman manis yang banyak dikonsumsi sehari-hari. Mulai dari teh atau kopi kemasan, kue, hingga camilan kekinian. Namun, pernahkah Anda berpikir apa sebenarnya yang membuat gula terasa manis? Ini penjelasan ilmiah dan batas konsumsi gula harian yang direkomendasikan.

Penjelasan Ilmiah Rasa Manis Gula

Sebenarnya, gula tidak “memiliki” rasa manis secara inheren. Rasa manis merupakan interpretasi otak terhadap sinyal kimia yang diterima reseptor pada lidah. Secara kimiawi, gula merupakan salah satu sumber karbohidrat sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Tapi sebenarnya, gula bukanlah satu-satunya sumber karbohidrat. Karbohidrat juga terdapat dalam berbagai makanan seperti beras, jagung, gandum dan olahannya, sorgum, ubi-ubian, serta beberapa jenis buah.

Lantas, mengapa gula terasa manis sementara nasi atau gandum tidak selalu terasa manis?

Jawabannya karena setiap jenis karbohidrat memiliki susunan molekul yang berbeda. Gula memiliki struktur molekul yang cocok dengan reseptor rasa manis T1R2 dan T1R3 pada lidah. Jika diibaratkan, seperti kunci dengan gemboknya. Ketika molekul gula berinteraksi dengan reseptor tersebut, muncul sinyal yang diteruskan melalui saraf menuju otak. Otak kemudian menerjemahkan sinyal tersebut sebagai rasa manis yang kita kenal.

Sementara itu, karbohidrat dalam beras, gandum, jagung, dan ubi sebagian besar berupa pati. Pati merupakan rantai panjang molekul glukosa. Karena susunan molekulnya berbeda, bentuknya tidak cocok dengan “gembok” reseptor rasa manis di lidah. Inilah yang menyebabkan pati tidak terasa manis seperti gula.

Batas Konsumsi Gula Harian

Menurut Kementerian Kesehatan RI, batas maksimal konsumsi gula orang dewasa adalah 50 gram per hari. Jumlah ini setara sekitar 4 sendok makan. Untuk anak usia 7–10 tahun, batasnya 24 gram atau 6 sendok teh. Sementara anak usia 2–6 tahun maksimal 19 gram atau 4 sendok teh per hari. Batasan ini juga sesuai dengan rekomendasi World Health Organization (WHO).

Meski begitu, konsumsi gula sebaiknya tidak mendekati batas atas tersebut. American Heart Association (AHA) menyarankan batas konsumsi harian maksimal untuk wanita adalah 25 gram, dan 37,5 gram untuk pria. Konsumsi gula yang berlebihan berisiko memicu obesitas, kerusakan gigi, hingga penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2.

Adaptasi Terhadap Rasa Manis

Studi menunjukkan bahwa konsumsi gula merangsang otak melepaskan dopamin. Dopamine adalah zat kimia yang memberi sensasi senang dan puas. Ketika mengkonsumsi makanan atau minuman manis, otak dapat menganggapnya sebagai pengalaman yang menyenangkan. Sensasi tersebut kemudian mendorong kita untuk mengulang pengalaman serupa.

Masalahnya, semakin sering pengalaman ini terjadi semakin tinggi pula ambang kepuasan tubuh terhadap rasa manis. Akibatnya, tanpa disadari konsumsi gula harian cenderung terus bertambah. Teh dengan satu sendok teh gula yang tadinya sudah terasa manis, lama-kelamaan terasa biasa saja. Hal ini memicu kita untuk menambah takaran gula untuk satu cangkir teh yang sama.

Fenomena tersebut dijelaskan dalam jurnal Frontiers in Psychology dengan judul “Gradual Increases in Sugar Concentration Enhance Total Perceived Sweetness in Individuals Prone to Sweetness Habituation”. Dalam jurnal tersebut, dijelaskan bahwa lidah dan otak memiliki mekanisme adaptasi yang membuat kita makin lama makin kebal terhadap rasa manis. Akibatnya, takaran gula yang dulu terasa pas dapat terasa hambar.

Tips Kurangi Konsumsi Gula Harian

Mengurangi konsumsi gula tidak harus dilakukan secara drastis. Perubahan kecil dan konsisten dalam keseharian sudah cukup membantu menekan asupan gula tanpa terasa berat dijalani. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

  • Kurangi minuman manis: hindari soda, teh manis kemasan, dan kopi susu kekinian. Ganti dengan air putih atau teh tawar.
  • Baca label kemasan: cermati kandungan gula tersembunyi seperti sukrosa, fruktosa, dan sirup jagung. Pilih produk dengan kadar gula paling rendah.
  • Batasi makanan olahan: kurangi kue, biskuit, dan sereal instan. Utamakan buah segar sebagai pengganti kudapan manis.
  • Masak sendiri di rumah: atur sendiri takaran gula pada masakan atau minuman. Gunakan rempah alami seperti kayu manis atau vanila untuk menambah rasa.

 

Itulah beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi konsumsi gula dalam keseharian. Temukan artikel lain seputar kesehatan, lingkungan, dan gaya hidup berkelanjutan di LingkariNews.id.

(KP/NY)

Sumber 

Sumber: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12305340/#s5 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-