LingkariNews — Ketika berbicara tentang rasa manis, pikiran kita hampir selalu tertuju pada gula. Gula banyak digunakan untuk membuat berbagai makanan dan minuman manis yang banyak dikonsumsi sehari-hari. Mulai dari teh atau kopi kemasan, kue, hingga camilan kekinian. Namun, pernahkah Anda berpikir apa sebenarnya yang membuat gula terasa manis? Ini penjelasan ilmiah dan batas konsumsi gula harian yang direkomendasikan.
Penjelasan Ilmiah Rasa Manis Gula
Sebenarnya, gula tidak “memiliki” rasa manis secara inheren. Rasa manis merupakan interpretasi otak terhadap sinyal kimia yang diterima reseptor pada lidah. Secara kimiawi, gula merupakan salah satu sumber karbohidrat sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Tapi sebenarnya, gula bukanlah satu-satunya sumber karbohidrat. Karbohidrat juga terdapat dalam berbagai makanan seperti beras, jagung, gandum dan olahannya, sorgum, ubi-ubian, serta beberapa jenis buah.
Lantas, mengapa gula terasa manis sementara nasi atau gandum tidak selalu terasa manis?
Jawabannya karena setiap jenis karbohidrat memiliki susunan molekul yang berbeda. Gula memiliki struktur molekul yang cocok dengan reseptor rasa manis T1R2 dan T1R3 pada lidah. Jika diibaratkan, seperti kunci dengan gemboknya. Ketika molekul gula berinteraksi dengan reseptor tersebut, muncul sinyal yang diteruskan melalui saraf menuju otak. Otak kemudian menerjemahkan sinyal tersebut sebagai rasa manis yang kita kenal.
Sementara itu, karbohidrat dalam beras, gandum, jagung, dan ubi sebagian besar berupa pati. Pati merupakan rantai panjang molekul glukosa. Karena susunan molekulnya berbeda, bentuknya tidak cocok dengan “gembok” reseptor rasa manis di lidah. Inilah yang menyebabkan pati tidak terasa manis seperti gula.
Batas Konsumsi Gula Harian
Menurut Kementerian Kesehatan RI, batas maksimal konsumsi gula orang dewasa adalah 50 gram per hari. Jumlah ini setara sekitar 4 sendok makan. Untuk anak usia 7–10 tahun, batasnya 24 gram atau 6 sendok teh. Sementara anak usia 2–6 tahun maksimal 19 gram atau 4 sendok teh per hari. Batasan ini juga sesuai dengan rekomendasi World Health Organization (WHO).
Meski begitu, konsumsi gula sebaiknya tidak mendekati batas atas tersebut. American Heart Association (AHA) menyarankan batas konsumsi harian maksimal untuk wanita adalah 25 gram, dan 37,5 gram untuk pria. Konsumsi gula yang berlebihan berisiko memicu obesitas, kerusakan gigi, hingga penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2.
Adaptasi Terhadap Rasa Manis
Studi menunjukkan bahwa konsumsi gula merangsang otak melepaskan dopamin. Dopamine adalah zat kimia yang memberi sensasi senang dan puas. Ketika mengkonsumsi makanan atau minuman manis, otak dapat menganggapnya sebagai pengalaman yang menyenangkan. Sensasi tersebut kemudian mendorong kita untuk mengulang pengalaman serupa.
Masalahnya, semakin sering pengalaman ini terjadi semakin tinggi pula ambang kepuasan tubuh terhadap rasa manis. Akibatnya, tanpa disadari konsumsi gula harian cenderung terus bertambah. Teh dengan satu sendok teh gula yang tadinya sudah terasa manis, lama-kelamaan terasa biasa saja. Hal ini memicu kita untuk menambah takaran gula untuk satu cangkir teh yang sama.
Fenomena tersebut dijelaskan dalam jurnal Frontiers in Psychology dengan judul “Gradual Increases in Sugar Concentration Enhance Total Perceived Sweetness in Individuals Prone to Sweetness Habituation”. Dalam jurnal tersebut, dijelaskan bahwa lidah dan otak memiliki mekanisme adaptasi yang membuat kita makin lama makin kebal terhadap rasa manis. Akibatnya, takaran gula yang dulu terasa pas dapat terasa hambar.
Tips Kurangi Konsumsi Gula Harian
Mengurangi konsumsi gula tidak harus dilakukan secara drastis. Perubahan kecil dan konsisten dalam keseharian sudah cukup membantu menekan asupan gula tanpa terasa berat dijalani. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
Itulah beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi konsumsi gula dalam keseharian. Temukan artikel lain seputar kesehatan, lingkungan, dan gaya hidup berkelanjutan di LingkariNews.id.
(KP/NY)
Sumber
Sumber: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12305340/#s5