LingkariNews — Pemerintah menjadikan bongkar ratoon sebagai salah satu strategi utama untuk mencapai target swasembada gula 2026. Sedikitnya 97 ribu hektare lahan tebu di berbagai wilayah Indonesia ditargetkan menjalani buka ratoon. Kebijakan ini muncul setelah pemerintah melakukan evaluasi terhadap menurunnya produktivitas di sejumlah sentra perkebunan tebu rakyat.
Dalam evaluasi yang dilakukan, banyak tanaman tebu milik petani telah melewati masa produktif optimal. Tebu-tebu tersebut terus dikepras selama bertahun-tahun tanpa adanya peremajaan bibit secara menyeluruh. Padahal idealnya, tanaman tebu perlu dibongkar total setelah 3 hingga 4 kali masa kepras. Akibatnya, produktivitas tanaman cenderung menurun. Hasil panen juga jadi kurang maksimal.
Bongkar ratoon adalah proses membongkar akar tanaman tebu lama lalu menggantinya dengan bibit baru. Jika biasanya petani hanya mengepras tebu dan mempertahankan akar lama untuk panen berikutnya, buka ratoon dilakukan dengan menghilangkan akar lama tanaman tebu secara total.
Bongkar ratoon dapat menjadi strategi penting untuk mendorong swasembada gula karena digadang-gadang mampu meningkatkan produksi gula nasional. Potensi rendemen dari tanaman baru bisa menembus lebih dari 8–9 persen. Padahal, rendemen tebu ratoon tua umumnya hanya berkisar 6–7 persen. Dengan input pupuk yang sama, tanaman tebu baru juga mampu menghasilkan tonase tebu lebih besar per hektare.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyebut buka ratoon perlu diimbangi penggunaan varietas unggul untuk mengganti bibit lama. Menurut Sudaryono, varietas tanaman yang lebih unggul berpotensi meningkatkan produksi gula hingga 20–30 persen. Bibit unggul juga dinilai lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Saat ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran khusus untuk bantuan bibit unggul bagi petani. Pendampingan teknis juga disiapkan bagi kelompok tani yang menjalankan bongkar ratoon secara serentak demi mendukung target swasembada gula.
Meski menawarkan berbagai keunggulan, buka ratoon tetap menghadirkan tantangan bagi petani. Para petani harus kehilangan satu siklus panen singkat sambil menunggu bibit baru tumbuh hingga siap dipanen. Kondisi ini dapat memengaruhi arus pendapatan petani dalam jangka pendek.
Untuk mengatasinya, pemerintah menyarankan program tanaman sela sebagai sumber pemasukan tambahan. Bantuan tunai sementara juga disiapkan bagi petani yang menjalankan bongkar ratoon. Dukungan ini diharapkan menjaga partisipasi petani dalam program swasembada gula.
Jawa Timur menjadi daerah prioritas pelaksanaan buka ratoon. Hal ini karena Jawa Timur menopang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Pemerintah menargetkan seluas 54.897 hektare di 24 kabupaten sentra tebu melakukan buka ratoon. Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan target bongkar ratoon tertinggi dengan luas lahan sekitar 7.000 hektare. Jika produktivitas tebu di Jawa Timur meningkat 15–20 persen melalui strategi ini, defisit gula konsumsi nasional diproyeksikan tertutup pada akhir 2026.
Untuk mendukung target tersebut, sebanyak 11 kabupaten sentra tebu di Jawa Timur menggelar program bongkar ratoon serentak pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Khofifah turut melakukan tanam perdana tebu di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menegaskan komitmennya mendukung program swasembada gula nasional. Dukungan pemerintah daerah dinilai penting untuk menjaga konsistensi pelaksanaan bongkar ratoon di tingkat petani.
(KP/NY)