Ilustrasi pertanian tebu
LingkariNews – Industri gula India mendorong pembentukan pusat riset tebu berteknologi modern guna menghadapi perubahan iklim, serangan penyakit tanaman, dan stagnasi produktivitas yang membayangi sektor pergulaan di negara tersebut.
Melalui proposal yang diajukan kepada Menteri Pertanian India, Shivraj Singh Chouhan, pelaku industri mengusulkan pembentukan Centre of Excellence (CoE) atau Pusat Keunggulan untuk penelitian tebu di ICAR-Sugarcane Breeding Institute, Coimbatore. Fasilitas tersebut dirancang menjadi pusat pengembangan teknologi pemuliaan tebu generasi baru yang mampu menjawab tantangan sektor pertanian di masa depan.
Usulan tersebut diajukan bersama oleh Indian Sugar and Bio-Energy Manufacturers Association and National Federation of Cooperative Sugar Factories dengan kebutuhan investasi mencapai 87,94 croce rupee selama lima tahun mulai tahun fiskal 2026/2027.
Fokus pada Tebu Tahan Iklim dan Penyakit
Pusat riset yang diusulkan akan berfokus pada pengembangan teknologi pemuliaan modern, termasuk genome editing, sistem perbenihan mutakhir, serta pengembangan varietas tebu yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Langkah ini dinilai penting karena sektor tebu India saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pola curah hujan yang semakin tidak menentu, peningkatan biaya produksi, serangan hama, hingga merebaknya penyakit tanaman.
Kondisi tersebut berdampak pada produktivitas tebu yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Data industri menunjukkan produktivitas tebu India masih bertahan pada kisaran 80–83 ton per hektare, meskipun kebutuhan bahan baku terus meningkat seiring berkembangnya industri gula dan bioenergi.
Selain faktor iklim, penyakit red rot menjadi salah satu ancaman utama bagi perkebunan tebu di India. Penyakit ini dikenal sebagai salah satu penyakit paling merusak yang dapat menyebabkan penurunan produksi secara signifikan.
Para peneliti meyakini teknologi genome editing dapat mempercepat pengembangan varietas tebu yang memiliki ketahanan alami terhadap penyakit tersebut dibandingkan metode pemuliaan konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama.
Manfaat untuk Jutaan Petani
Pusat keunggulan yang diusulkan juga akan memanfaatkan berbagai teknologi mutakhir seperti genome sequencing, phenomics, bioinformatika, high-throughput breeding, hingga teknologi benih presisi.
Melalui pendekatan tersebut, industri berharap dapat menghasilkan varietas tebu yang lebih produktif, efisien dalam penggunaan air, dan lebih tahan terhadap penyakit maupun tekanan lingkungan.
Pelaku industri menilai inisiatif tersebut berpotensi memberikan manfaat langsung kepada sekitar 55 juta petani tebu di India. Selain meningkatkan produktivitas, teknologi baru juga diharapkan mampu mengurangi kerugian akibat perubahan iklim dan serangan penyakit tanaman serta membantu menjaga stabilitas pendapatan petani.
Mengurangi Ketergantungan pada Sedikit Varietas
Industri gula India juga menyoroti tingginya ketergantungan pada sejumlah kecil varietas tebu yang saat ini mendominasi area budidaya.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko ketika terjadi serangan penyakit atau perubahan lingkungan yang ekstrem. Karena itu, pengembangan varietas baru menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan sektor pergulaan dalam jangka panjang.
Keberadaan pusat riset tersebut diharapkan tidak hanya mendukung industri gula dan bionergi India, tetapi juga berkontribusi terhadap agenda yang lebih luas seperti keberlanjutan pertanian, pembangunan pedesaan, dan ketahanan pangan nasional.
Tantangan yang dihadapi India sebenarnya tidak jauh berbeda dengan banyak negara penghasil tebu lainnya, termasuk Indonesia. Perubahan iklim, gangguan organisme penganggu tanaman, serta kebutuhan meningkatkan produktivitas lahan menjadi isu yang semakin penting dalam upaya menjaga kebelanjutan sektor pergulaan di masa depan.
(NY)
Sumber
https://www.chinimandi.com/sugar-industry-seeks-rs-88-crore-icar-centre-to-develop-climate-resilient-high-yielding-sugarcane-varieties/